Lukman Nur Hakim

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
RANDUSANGA SEJEN

RANDUSANGA SEJEN

RANDUSANGA SEJEN KARO LIYANE
Oleh : Lukman Nur Hakim.

Setiap desa memiliiki keunggulan masing-masing. Begitu juga Randusanga, desa yang berada di sebelah utara pusat Pemerintahan Kabupaten Brebes Jawa Tengah, merupakan desa yang unik dan dapat dikatakan desa yang berbeda dengan lainnya.

Maaf? tapi jangan bilang dulu, "kok bisa"!,
Emangnya Randusanga punya apa?.
atau apa hebatnya sih!. Beginih sedulur.

Randusanga sudah dikenal ratusan tahun yang lalu. Bukan karena ikan bandengnya, udang windu, rumput laut maupun pantai randusanga (PARIN) atau wisata pulau hantu, kalau yang ini kan, baru puluhan tahun yang lalu. Atau bisa disebut produk kemarin sore. Apalagi wisata pamancingan yang hanya berumur beberapa bulan.

Nih!. bukti Randusanga hebat, Itu menurut aku. Yaitu karena Randusanga punya Maqam Syaikh Junaidi. Maqam yang sudah terkenal lebih dahulu dan banyak peziarah berdatangan. Apalagi kalau malam jumat, ramainya kaya pasar malam. Kalau ada yang kurang setuju, aku minta maaf.

Hanya mengingatka saja, maqam Syaikh Junaidi Randusanga, masuk katagori desa cagar budaya atau lebih familiernya desa wisata spiritual. Namun karena sistem pengelolaan masih tradisional, dan hanya orang-orang tertentu yang peduli saja. Sehingga wisata spiritual tersebut belum dikelola secara maksimal. Padahal sudah banyak orang berziarah dari berbagai daerah, baik kabupatem tetangga maupun propinsi.

Tapi aku yakin, wisata spiritual Randusanga terus akan dibenahi, seperti wisata spiritual di kabupaten tetangga. Sebut saja wisata spiritual yang ada di Widuri, yang secara geografis sama-sama daerah pesisir, yaitu makam Maulana Syamsuddin.

Wisata spiritual yang membuka dua puluh empat jam pelayanan. Dengan jalan yang baik, areal parkir luas, tempat ziarah bersih, petugasnya ramah dan tidak ada peminta-minta uang. Membuat wisatawan datang dalam kondisi senang, tanpa merasa beban, jenuh dan tak mengenal jarak maupun waktu.

Kembali ke Randusanga, kalau melihat Randusanga yang punya tempat wisata lebih dari lima, sangat layak menjadi "Desa Sejen Karo Liyane". Masa iya, ada lima!. Mari hitung satu persatu dan nikmati bersama. Kalau yang belum pernah datang, Monggo dikunjungi, biar tahu sendiri.

Pertama, mulai dari PARIN. Tempat wisata yang sangat luas, terkenal kuliner ikan bakar, cumi goreng, cak kangkung dan rujak lontongnya, serta sangat cocok untuk menjadi bumi perkemahan wisata pelajar. Apalagi ngajak keluarga bersantai disana, tentu menjadi pilihan yang sangat tepat.

Kedua, ada wisata pulau hantu. Wisata yang mengangkat keangkeran dan mitos-mitos lokal warga kampung, dari cerita para pemilik tambak di wilayah tersebut. Katanya, ada buaya putih, yang sering berubah menjadi orang tua botak dan suka iseng masuk dan tidur di gubuk pemilik tambak. Belum ditambah istana buaya dan ular yang sering membuat pejalan kaki jatuh dimalam hari, karena kesandung badan ular, yang tidur di galengan tambak. Wisatawan juga akan dibuat penasaran, mulai dari perjalanan naik perahu menelusuri sungai Tanyep, menuju pulau hantu yang dipenuhi tanaman bakau dalam sepanjang perjalanannya. Apalagi kalau sudah nyampai ditempat, akan semakin terasa pulau yang betul-betul dipenuhi hantu laut.

Sedangkan yang ketiga, wisata baru yaitu wisata pemancingan. Wisata yang tidak pernah sepi dan mengenal waktu. Sangat dipastikan setiap hari ada orang mancing. Lebaran saja, tetap ada yang memancing, apalagi hari-hari biasa. Lebih ramainya lagi kalau ada yang dapat kakap putih besar. Para pemancing yang awalnya tenang menjadi ramai. Saling teriak dan mendekat pada yang dapat ikan. Setelah tertangkap dilanjutkan dengan selfi bersama ikan kakap, serta pesta ikan bakar bersama teman dan keluarga dirumahnya. Hal ini bisa dibilang sangat menggiurkan bagi para pemancing mania.

Selain wisata Syaih Junaid, Pemancingan dan Parin. Masih ada dua wisata spiritul yang belum tersentuh. yaitu wisata Sumur Melati dan Makam Santri. Padahal kedua tempat wisata ini, konon lebih serem dan sangat ditakuti, karena sering terlihat makhluk kasat mata disana. Namun karena transpotasi menuju tempat wisata agak sulit. Maka sangat wajar bila minim wisatawan, bahkan hampir sudah tidak terdengar lagi kedua tempat wisata tersebut. Padahal menurut orang tua dulu. Jaman kakek nenek ku, tempat ini sangat disakralkan dan sering dijadikan tempat kegiatan syukuran warga.

Jadi, kalau Randusanga saat ini belum menjadi " Desa Sejen Karo Liyane". Desa yang lebih baik, dalam akses jalan, keramahan dan kenyamanan wisata, kampung kuliner dan wisata spiritual yang layak. Dapat diindikasi sedang menunggu waktu dan figur yang tepat untuk membenahi dan mewujudkannya. Muda-mudahan keunggulan Randusangan akan segera cepet terwujud dengan munculnya pembaharuan alam dan motivator warga, sehingga potret desa wisata mandiri dapat diraih. Amin







DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali