Lukman Nur Hakim

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
TRASI YANG SULIT DICARI

TRASI YANG SULIT DICARI

TRASI KHAS RANDUSANGA YANG TIDAK PRODUKSI LAGI
Oleh : Lukman Nur Hakim

Randusanga dulu memiliki kenangan dengan home industri Trasi. Namun lambat laun mulai tergeser dan hampir hilang. Kalau pun kita dipaksakan mau mencari trasi Randusanga, agaknya sangat susah ditemui. Hal ini, karena masyarakat Randusanga tidak membuat trasi lagi, mereka lebih suka merantau ke jakarta buka warung jualan nasi atau buka warung di PARIN.

Padahal bahan baku pembuatan trasi yaitu "rebon" (udang kecil) masih mudah didapat. Baik, yang didapat di tempat tambak para petani maupun di laut. Kalaupun tidak diambil, rebon tersebut nanti akan mati, karena jenis udang ini tidak bisa besar. Bisa dibilang selamanya kecil.

Rasa trasi Randusanga memiliki kualitas yang beda dengan daerah lain. Sehingga para pembuat trasi, banyak menerima orderan. Baik yang mau dijual lagi maupun untuk konsumsi sendiri. Kekhasan trasi Randusanga tidak bisa diragukan. Aroma trasi Randusanga dengan bahan rebon asli sudah familier di telinga masyarakat Brebes pada khususnya dan tetangga Kabupaten pada umumnya. Mungkin karena cara pembuatannya yang memiliki rahasia tersendiri.

Pada saat musim pembuatan trasi. Aku masih ingat ketika masa kecil dulu. Musim yang membuat para orang tua sibuk mencari rebon dan segera menjualnya pada pembuat Trasi. Mungkin karena kurang mampu membuat trasi yang enak, atau ada alasan lain. Sehingga lebih fokus mencari rebon dari pada ikut-ikutan membuat trasi.

Fakta dilapangan memang benar, tidak semua masyarakat Randusanga mampu membuat trasi, hanya orang tertentulah yang bisa. Kebetulan Mbah aku, sebut saja "Kapsah", salah satu orang yang ahli membuat trasi, dan rasanya tidak diragukan lagi, enak dan khas. Tapi sayang, kelima anaknya tidak ada yang meneruskan, apalagi puluhan cucunya. Mereka lebih suka pada usaha lain dari pada meneruskan usaha trasi peninggalan neneknya.

Proses pembuatan trasi tergantung adanya rebon. Datangnya musim rebon, berarti dimulainya masa pembuatan trasi. Secara perhitungan ilmu titen orang Randusanga. Rebon ada hanya pada bulan-bulan tertentu saja. Masyarakat Randusangan menyebutnya "Wulan kewolu," atau tepatnya bulan sa'ban (Jawa : ruwah). Tetapi dalam setiap tahunya, musim rebon ada yang lama dan ada pula yang pendek. Kalau lama diindikasikan rebonya banyak, sehingga produksi trasipun melimpah. Namun kalau sedikit, para pembuat trasi hanya membuat beberapa hari saja. Dikarenakan bahanya sudah tidak ada.

Rebon juga memilki keunikan bila mau keluar, dan kadang kala tidak bisa ditebak. Namun ciri-ciri ketika akan datang musim rebon, para nelayan atau pembuat trasi sudah hafal betul. Wong kelihatan kok. Kalau ditambak biasanya suka berkeliling dipinggir area tambak, adapun kalau di laut suka nampak dipermukaan. Sehingga adanya rebon di tambak maupun laut, akan mudah diketahui.

Ketika rebon nampak di pinggir tambak, ataupun di laut banyak sekali. Para orang tuapun mulai beramai-ramai mengambilnya, dan menjual pada pembuat trasi. Setelah selesai proses timbang dan bayar. Rebon segera dijemur. Pada saat itu bisa dibilang, tidak ada tempat yang kosong dari jemuran Rebon. Apalagi samping, depan dan belakang rumah para pembuat trasi, sumuanya menjadi tempat jemuran rebon. Mereka tidak memikirkan bau trasi yang masuk dalam rumahnya.

Lapangan kosong, yang biasa untuk main aku dan teman-teman tak luput dari jemuran rebon. Akupun tetap main dengan dikelilingi jemuran rebon. Padahal saat itu baunya agak kurang enak, tapi kalau sudah terbiasa dengan bau rebon, kami pun tetap saja bisa main dan tidak terpengaruh olehnya. Namanya saja anak-anak, yang penting bisa bermain bersama teman-teman.

Sebagai pengetehuan saja. Pembuatan trasi memang mengalami penjemuran dua kali. Penjemuran pertama saat mendapatkan rebon. Kemudian dijemur sampai kering, setelah itu baru ditumbuk. Pada penjemuran kedua setelah rebon di tumbuk agak halus, kemudian di jemur lagi dan ditumbuk sampai halus. Proses pencetakan trasi ukuran besar maupun kecil, pada saat trasi sudah seperti adonan yang kenyal.

Pada sisi lain, masyarakat Randusanga yang hanya mampu mencari rebon, biasanya dalam sehari mampu mendapatkan puluhan kilo. Itupun hanya mencari dari pagi sampai siang. Hal ini dikarenakan, agar rebon langsung dijemur, dan cepat kering sehingga meminimalkan bau airnya rebon yang baru didapat dari tambak maupun laut.

Ada yang lebih menarik pada anak-anak saat penumbukan trasi. Karena saat itu, biasanya aku suka nonton dan menjadi hiburan tersendiri oleh aku dan teman-temanku. Karena ibuku dan ibu-ibu temanku ada disitu juga. Mereka membantu menumbuk trasi.

Suara saling saut-sautan dalam menumbuk trasi, kadang dibalas oleh aku dan teman-temanku dengan menabuh kaleng ataupun ember. Sehingga membuat para penumbuk senyum-senyum sendiri melihat tingkahku dan teman-temanku. Maklumlah saat itu belum banyak hiburan seperti jaman sekarang.

Biasanya pada saat proses penumbuk trasi, yang menumbum ada tiga sampai empat orang. Mereka saling bergantian dalam menumbuk, Sedangkan ibu-ibu yang lain yang tidak menumbuk menunggu gantian barang kali ada yang sudah capai dan menata trasi yang sedang ditumbuk di lumpang (jawa; tempat menumbuk), serta ada yang bertugas mencetak trasi dalam bentuk bujur sangkar dengan ukutan dua sampai lima kilo.

Proses pembuatan trasi, pada saa itu dilakukan oleh ibu-ibu muda. Sehingga bila ada anaknya menangis, saat itu pula berhenti dan langsung menyusui. Padahal tangan dan badanya bau trasi. Hal ini sudah menjadi pemandangan setiap hari bagi ibu-ibu penumbuk trasi. Lebih anehnya tidak ada satu banyipun yang muntah apalagi menolak susuan dari ibunya.

Ada juga saat menyuapin anaknya makan, tangan yang masih bau trasipun, tidak membuat anak yang disuapin muntah. Mereka sangat menikmati suapan nasi campur pisang yang digerus halus dan diaduk-aduk oleh ibunya masing-masing. Mungkin kalau jaman sekarang dibilang ibu enggak sayang dan jorok. Namun saat itu, sudah menjadi keumuman para ibu penumbuk trasi.

Kini,
Para pembuat trasi sudah berhenti Tidak mampu menurunkan generasi.
Dulu Randusanga produksi trasi.
Kini jarang ditemui.
Jaman sudah berganti,
Para ibu-ibu beralih profesi.
Alhasil Randusanga sudah tidak punya ciri.

Melawan lupa!




DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Wah harus dilestarikan budaya pembuatan trasi, kalau saya tahunya beli saja di warung 500 satu buah kemasan kecil kalau mau buat sambal, rujakan, atau buah cah kangkung/tauge

13 Jun
Balas

dulu kampungku banyak pembuat trasi kini hampir tidak ada. sekarang sangat sulit sekali menemukan yang mau menerima, meneruskan karya leluhur yang bernilai ekonomi tinggi. Apalagi sekarang rumah2 berdekatan. Maka akan semakin sulit lagi mengembalikan kekhasan trasi dari Randusanga.

13 Jun
Balas

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali